GredinovNovember 8th 1987 (Age 20) Male jakarta
|
 |
PLN akan membeli PLTS buatan ITB
Perusahaan Listrik Negara (PLN) siap membeli listrik hasil pengolahan sampah yang akan dikembangkan Institut Teknologi Bandung (ITB). Untuk langkah awal, Rektor ITB, Djoko Santoso dan Plt. Direktur Utama PLN, Djuanda Nugraha Ibrahim, sepakat untuk bekerja sama dalam hal kajian kelayakan dan desain pembangkit listrik dengan bahan bakar sampah.
Kesepakatan itu tertuang dalam perjanjian kerja sama yang ditandatangani keduanya, Kamis (27/7) di Gedung Rektorat ITB, Jalan Tamansari Bandung. Menurut Plt Dirut PLN, pengolahan sampah menjadi energi listrik ini, harus segera diwujudkan. "Tahun depan harus sudah terwujud," tutur Djuanda.
Apalagi, kata Djuanda, banyak investor yang tertarik untuk mendanai pengolahan sampah kota menjadi energi listrik. Rencananya, pembangkit listrik tenaga sampah (PLTS) yang dibangun mempunyai kapasitas 30 megawatt (MW). "Kapasitas ini merupakan yang menguntungkan," ungkapnya.
Biaya yang diperlukan untuk membangun PLTS tersebut, diperkirakan mencapai Rp 11 miliar per MW, termasuk modal kerja selama tiga bulan. Selain itu, biaya ini juga mencakup penyediaan air baku dan sumbangan angkutan sampah Rp 10.000,00 per ton. Namun, pembiayaan yang dianggarkan tersebut belum termasuk biaya pembebasan lahan dan infrastruktur transportasi sampah. Pembiayaan itu diasumsikan akan dibebankan kepada pemerintah.
Menurut dia, PLN dan ITB sama-sama mempunyai kepentingan dalam hal pengolahan sampah. Kebutuhan listrik dan ketersediaan teknologi merupakan benang merah yang menghubungkan kedua pihak tersebut. Namun begitu, kajian kelayakan pembangunan PLTS tersebut perlu dilakukan. Sebab, pelaksanaan teknologi ini membutuhkan keberlanjutan (sustainability).
Pendapatan dari program ini diperkirakan 5 dolar AS per ton CO2 ekuivalen. PLN berencana membeli listrik hasil olahan ini dengan harga Rp 425,00 per kilowatt hour (kwh). Dengan demikian, projek ini mempunyai IRR (internal rate return) sebesar 22 persen, dan NPV (net present value) Rp 167 miliar pada tahun ke 10 dengan payback periode 4,45 tahun.
Menanggapi hal ini, Rektor ITB, Djoko Santoso mengatakan projek ini merupakan projek yang menjanjikan dan dapat dijamin keberlangsungannya. ITB, lanjut Djoko, telah menyiapkan dana Rp 200 juta untuk studi kelayakan pembangunan PLTS. "Kesempatan ini merupakan tantangan bagi ITB untuk menciptakan teknologi pengolahan sampah menjadi listrik, tidak hanya teori," tuturnya.
Kepala Pusat Rekayasa Industri, Dr. Ir. Ari Darmawan Pasek, mengungkapkan, potensi listrik sampah Bandung diasumsikan mempunyai nilai kalori 1.500-2.500 kkcal/kg dengan efisiensi pembangkit 25 persen. Energi listrik yang dihasilkan per ton sampah per hari sebesar 18-30 kw. Selain menambah pasokan listrik, manfaat dari pengolahan sampah ini adalah meniadakan emisi gas rumah kaca sebesar 120.000 ton CO2 ek/tahun. "Residunya hanya 2-3 persen," tuturnya.
Kajian yang akan dilakukan juga merupakan upaya untuk menentukan lokasi pembangkit yang sesuai di Bandung. "Lokasi yang dibutuhkan seluas 1-2 hektare," tambahnya. Selain itu juga dimaksudkan untuk mengembangkan desain dasar (basic design) sistem pembangkit listrik tenaga uap dengan bahan bakar sampah.
Ari mengatakan, pihak terkait yang akan terlibat dalam pembangunan PLTS selain PLN adalah PT Nusantara Turbin dan Propulsi, PT Barata, PT PAL, PT Pindad, dan PT Basuki Pratama Engineering. (sumber : Harian PikiranRakyat )
Posted at 02:36 am by Gredinov
Permalink
Goleman (1997),
mengatakan bahwa koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik. Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri dengan suasana hati individu yang lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki tingkat emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial serta lingkungannya. Lebih lanjut Goleman mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam meghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati.
Sementara Cooper dan Sawaf (1998) mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan, untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya
Howes dan Herald (1999) mengatakan pada intinya,kecerdasaan emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi. Lebih lanjut dikatakannya bahwa emosi manusia berada diwilayah dari perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi,dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati,kecerdasaan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain.
Dari
beberapa pendapat diatas dapatlah dikatakan bahwa
kecerdasan emosional menuntut diri untuk belajar
mengakui dan menghargai perasaan diri sendiri dan orang
lain dan untuk menanggapinya dengan tepat, menerapkan
dengan efektif energi emosi dalam kehidupan dan
pekerjaan sehari-hari. 3 (tiga) unsur penting kecerdasan
emosional terdiri dari : kecakapan pribadi (mengelola
diri sendiri); kecakapan sosial (menangani suatu
hubungan) dan keterampilan sosial (kepandaian menggugah
tanggapan yang dikehendaki pada orang lain).
Komponen-Komponen
Kecerdasan Emosional Kecerdasan
emosional bukan merupakan lawan kecerdasan intelektual
yang biasa dikenal dengan IQ, namun keduanya
berinteraksi secara dinamis. Pada kenyataannya perlu
diakui bahwa kecerdasan emosional memiliki peran yang
sangat penting untuk mencapai kesuksesan di sekolah,
tempat kerja, dan dalam berkomunikasi di lingkungan
masyarakat. Goleman
(1995) mengungkapkan 5 (lima) wilayah kecerdasan
emosional yang dapat menjadi pedoman bagi individu untuk
mencapai kesuksesan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu :
1. Mengenali
emosi diri
Kesadaran
diri dalam mengenali perasaan sewaktu perasaan itu
terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. Pada
tahap ini diperlukan adanya pemantauan perasaan dari
waktu ke waktu agar timbul wawasan psikologi dan
pemahaman tentang diri. Ketidakmampuan untuk
mencermati perasaan yang sesungguhnya membuat diri
berada dalam kekuasaan perasaan. Sehingga tidak peka
akan perasaan yang sesungguhnya yang berakibat buruk
bagi pengambilan keputusan masalah.
2. Mengelola
emosi
Mengelola
emosi berarti menangani perasaan agar perasaan dapat
terungkap dengan tepat, hal ini merupakan kecakapan
yang sangat bergantung pada kesadaran diri. Emosi
dikatakan berhasil dikelola apabila : mampu menghibur
diri ketika ditimpa kesedihan, dapat melepas kecemasan,
kemurungan atau ketersinggungan dan bangkit kembali
dengan cepat dari semua itu. Sebaliknya orang yang
buruk kemampuannya dalam mengelola emosi akan terus
menerus bertarung melawan perasaan murung atau
melarikan diri pada hal-hal negatif yang merugikan
dirinya sendiri.
3. Memotivasi
diri
Kemampuan
seseorang memotivasi diri dapat ditelusuri melalui
hal-hal sebagai berikut : a) cara mengendalikan
dorongan hati; b) derajat kecemasan yang berpengaruh
terhadap unjuk kerja seseorang; c) kekuatan berfikir
positif; d) optimisme; dan e) keadaan flow (mengikuti
aliran), yaitu keadaan ketika perhatian seseorang
sepenuhnya tercurah ke dalam apa yang sedang terjadi,
pekerjaannya hanya terfokus pada satu objek. Dengan
kemampuan memotivasi diri yang dimilikinya maka
seseorang akan cenderung memiliki pandangan yang
positif dalam menilai segala sesuatu yang terjadi
dalam dirinya.
4. Mengenali
emosi orang lain
Empati
atau mengenal emosi orang lain dibangun berdasarkan
pada kesadaran diri. Jika seseorang terbuka pada emosi
sendiri, maka dapat dipastikan bahwa ia akan terampil
membaca perasaan orang lain. Sebaliknya orang yang
tidak mampu menyesuaikan diri dengan emosinya sendiri
dapat dipastikan tidak akan mampu menghormati perasaan
orang lain.
5. Membina
hubungan dengan orang lain
Seni
dalam membina hubungan dengan orang lain merupakan
keterampilan sosial yang mendukung keberhasilan dalam
pergaulan dengan orang lain. Tanpa memiliki
keterampilan seseorang akan mengalami kesulitan dalam
pergaulan sosial. Sesungguhnya karena tidak
dimilikinya keterampilan-keterampilan semacam inilah
yang menyebabkan seseroang seringkali dianggap
angkuh, mengganggu atau tidak berperasaan.
Dengan
memahami komponen-komponen emosional tersebut diatas,
diharapkan para remaja dapat menyalurkan emosinya
secara proporsional dan efektif. Dengan demikian
energi yang dimiliki akan tersalurkan secara baik
sehingga mengurangi hal-hal negatif yang dapat
merugikan masa depan remaja dan bangsa ini. Semoga.
;)
Posted at 09:45 pm by Gredinov
Permalink
| |
Wednesday, January 18, 2006 |
Adalah sesuatu yang menyakitkan ketika kita mencintai seseorang, namun ia tak pernah membalasnya, tetapi yang lebih menyakitkan adalah ketika kita mencintai seseorang sedangkan kita tidak pernah dapat menemukan keberanian untuk mengungkapkan perasaan kita padanya.
Sebuah hal yang menyedihkan dalam hidup ketika kita bertemu dengan seseorang, yang sangat berarti bagi kita, hanya untuk mengetahui pada akhirnya seseorang tersebut tidak ditakdirkan untuk bersama kita, sehingga kita harus dengan berat hati membiarkannya pergi dan berlalu.
Teman terbaik adalah teman dimana ketika kita duduk bersama disebuah ayunan, tanpa ada ucapan sekatapun, dan ketika harus berpisah dengannnya, terasa seolah hal tersebut merupakan percakapan paling menyenangkan yang pernah dilakukan bersama.
Adalah benar bahwa kita takkan pernah tahu apa yang telah kita dapatkan hingga kita kehilangannya. Tetapi adalah benar juga, ketika kita tidak tahu apa yang telah hilang hingga hal tersebut menghampiri kita.
Impikan saja apa yang ingin kita impikan, pergi saja kemanapun kita ingin pergi, jadilah sebagai sosok yang kita inginkan, karena kita hanya memiliki satu buah kehidupan dan satu buah kesempatan untuk dapat melakukan semua hal yang kita inginkan.
Letakkan diri kita sebagai layaknya orang lain, jika kita merasa hal yang kita lakukan akan menyakiti diri kita, hal tersebut mungkin akan menyakiti yang lain pula.
Kata-kata yang terucap tanpa perhitungan mungkin akan menyulut perselisihan, perkataan yang kejam dapat menghancur-kan kehidupan, sebuah kata yang tak tepat mungkin juga mampu menambah beban batin seseorang, dan... sebuah kata yang penuh cinta kasih mungkin dapat menyembuhkan dan memberikan berkah. Orang yang paling bahagia adalah orang yang tidak merasa selalu membutuhkan semua hal terbaik, mereka hanya berfikir bagaimana menciptakan semua hal menjadi terbaik bagi mereka, yang berlalu dalam hidupnya.
Cinta dimulai dengan sebuah senyum dan berakhir dengan air mata. Ketika kita dilahirkan, kita adalah orang yang menangis, sementara orang-orang disekeliling kita tersenyum bahagia.Ketika kita menanggalkan hidup, maka kita adalah pihak yang tersenyum begitu bahagia... sementara orang disekeliling kita menangis.
![]()
Posted at 10:17 am by Gredinov
Permalink
untukmu kupadamkan api asmara dalam bara mentari untukmu kusandarkan hati pada pucuk indah pelangi untukmu kuhempaskan asa dilautan luas tak bertepi dan, kusebut slalu namamu dihati hingga nadiku terhenti
Posted at 06:08 am by Gredinov
Permalink
|