Gredinov
November 8th 1987  (Age 22)
Male
jakarta
   

<< October 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31

Leaderboard

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



 
Thursday, April 19, 2007
PLN akan membeli PLTS buatan ITB
Perusahaan Listrik Negara (PLN) siap membeli listrik hasil pengolahan sampah yang akan dikembangkan Institut Teknologi Bandung (ITB). Untuk langkah awal, Rektor ITB, Djoko Santoso dan Plt. Direktur Utama PLN, Djuanda Nugraha Ibrahim, sepakat untuk bekerja sama dalam hal kajian kelayakan dan desain pembangkit listrik dengan bahan bakar sampah.

Kesepakatan itu tertuang dalam perjanjian kerja sama yang ditandatangani keduanya, Kamis (27/7) di Gedung Rektorat ITB, Jalan Tamansari Bandung. Menurut Plt Dirut PLN, pengolahan sampah menjadi energi listrik ini, harus segera diwujudkan. "Tahun depan harus sudah terwujud," tutur Djuanda.

Apalagi, kata Djuanda, banyak investor yang tertarik untuk mendanai pengolahan sampah kota menjadi energi listrik. Rencananya, pembangkit listrik tenaga sampah (PLTS) yang dibangun mempunyai kapasitas 30 megawatt (MW). "Kapasitas ini merupakan yang menguntungkan," ungkapnya.

Biaya yang diperlukan untuk membangun PLTS tersebut, diperkirakan mencapai Rp 11 miliar per MW, termasuk modal kerja selama tiga bulan. Selain itu, biaya ini juga mencakup penyediaan air baku dan sumbangan angkutan sampah Rp 10.000,00 per ton. Namun, pembiayaan yang dianggarkan tersebut belum termasuk biaya pembebasan lahan dan infrastruktur transportasi sampah. Pembiayaan itu diasumsikan akan dibebankan kepada pemerintah.

Menurut dia, PLN dan ITB sama-sama mempunyai kepentingan dalam hal pengolahan sampah. Kebutuhan listrik dan ketersediaan teknologi merupakan benang merah yang menghubungkan kedua pihak tersebut. Namun begitu, kajian kelayakan pembangunan PLTS tersebut perlu dilakukan. Sebab, pelaksanaan teknologi ini membutuhkan keberlanjutan (sustainability).

Pendapatan dari program ini diperkirakan 5 dolar AS per ton CO2 ekuivalen. PLN berencana membeli listrik hasil olahan ini dengan harga Rp 425,00 per kilowatt hour (kwh). Dengan demikian, projek ini mempunyai IRR (internal rate return) sebesar 22 persen, dan NPV (net present value) Rp 167 miliar pada tahun ke 10 dengan payback periode 4,45 tahun.

Menanggapi hal ini, Rektor ITB, Djoko Santoso mengatakan projek ini merupakan projek yang menjanjikan dan dapat dijamin keberlangsungannya. ITB, lanjut Djoko, telah menyiapkan dana Rp 200 juta untuk studi kelayakan pembangunan PLTS. "Kesempatan ini merupakan tantangan bagi ITB untuk menciptakan teknologi pengolahan sampah menjadi listrik, tidak hanya teori," tuturnya.

Kepala Pusat Rekayasa Industri, Dr. Ir. Ari Darmawan Pasek, mengungkapkan, potensi listrik sampah Bandung diasumsikan mempunyai nilai kalori 1.500-2.500 kkcal/kg dengan efisiensi pembangkit 25 persen. Energi listrik yang dihasilkan per ton sampah per hari sebesar 18-30 kw. Selain menambah pasokan listrik, manfaat dari pengolahan sampah ini adalah meniadakan emisi gas rumah kaca sebesar 120.000 ton CO2 ek/tahun. "Residunya hanya 2-3 persen," tuturnya.

Kajian yang akan dilakukan juga merupakan upaya untuk menentukan lokasi pembangkit yang sesuai di Bandung. "Lokasi yang dibutuhkan seluas 1-2 hektare," tambahnya. Selain itu juga dimaksudkan untuk mengembangkan desain dasar (basic design) sistem pembangkit listrik tenaga uap dengan bahan bakar sampah.

Ari mengatakan, pihak terkait yang akan terlibat dalam pembangunan PLTS selain PLN adalah PT Nusantara Turbin dan Propulsi, PT Barata, PT PAL, PT Pindad, dan PT Basuki Pratama Engineering. (sumber : Harian PikiranRakyat )

Posted at 02:36 am by Gredinov
Tulis comment disini  

 
Friday, April 13, 2007
kecerdasan emosional

Goleman (1997), mengatakan bahwa koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik. Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri dengan suasana hati individu yang lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki tingkat emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial serta lingkungannya. Lebih lanjut Goleman mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam meghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati.

Sementara Cooper dan Sawaf (1998) mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan, untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya Howes dan Herald (1999) mengatakan pada intinya,kecerdasaan emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi. Lebih lanjut dikatakannya bahwa emosi manusia berada diwilayah dari perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi,dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati,kecerdasaan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain.

Dari beberapa pendapat diatas dapatlah dikatakan bahwa kecerdasan emosional menuntut diri untuk belajar mengakui dan menghargai perasaan diri sendiri dan orang lain dan untuk menanggapinya dengan tepat, menerapkan dengan efektif energi emosi dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari. 3 (tiga) unsur penting kecerdasan emosional terdiri dari : kecakapan pribadi (mengelola diri sendiri); kecakapan sosial (menangani suatu hubungan) dan keterampilan sosial (kepandaian menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain).

Komponen-Komponen Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosional bukan merupakan lawan kecerdasan intelektual yang biasa dikenal dengan IQ, namun keduanya berinteraksi secara dinamis. Pada kenyataannya perlu diakui bahwa kecerdasan emosional memiliki peran yang sangat penting untuk mencapai kesuksesan di sekolah, tempat kerja, dan dalam berkomunikasi di lingkungan masyarakat. 

Goleman (1995) mengungkapkan 5 (lima) wilayah kecerdasan emosional yang dapat menjadi pedoman bagi individu untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu :

1. Mengenali emosi diri

Kesadaran diri dalam mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. Pada tahap ini diperlukan adanya pemantauan perasaan dari waktu ke waktu agar timbul wawasan psikologi dan pemahaman tentang diri. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaan yang sesungguhnya membuat diri berada dalam kekuasaan perasaan. Sehingga tidak peka akan perasaan yang sesungguhnya yang berakibat buruk bagi pengambilan keputusan masalah.

2. Mengelola emosi

Mengelola emosi berarti menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan tepat, hal ini merupakan kecakapan yang sangat bergantung pada kesadaran diri. Emosi dikatakan berhasil dikelola apabila : mampu menghibur diri ketika ditimpa kesedihan, dapat melepas kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan bangkit kembali dengan cepat dari semua itu. Sebaliknya orang yang buruk kemampuannya dalam mengelola emosi akan terus menerus bertarung melawan perasaan murung atau melarikan diri pada hal-hal negatif yang merugikan dirinya sendiri.

3. Memotivasi diri

Kemampuan seseorang memotivasi diri dapat ditelusuri melalui hal-hal sebagai berikut : a) cara mengendalikan dorongan hati; b) derajat kecemasan yang berpengaruh terhadap unjuk kerja seseorang; c) kekuatan berfikir positif; d) optimisme; dan e) keadaan flow (mengikuti aliran), yaitu keadaan ketika perhatian seseorang sepenuhnya tercurah ke dalam apa yang sedang terjadi, pekerjaannya hanya terfokus pada satu objek. Dengan kemampuan memotivasi diri yang dimilikinya maka seseorang akan cenderung memiliki pandangan yang positif dalam menilai segala sesuatu yang terjadi dalam dirinya.

4. Mengenali emosi orang lain

Empati atau mengenal emosi orang lain dibangun berdasarkan pada kesadaran diri. Jika seseorang terbuka pada emosi sendiri, maka dapat dipastikan bahwa ia akan terampil membaca perasaan orang lain. Sebaliknya orang yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan emosinya sendiri dapat dipastikan tidak akan mampu menghormati perasaan orang lain.

5. Membina hubungan dengan orang lain

Seni dalam membina hubungan dengan orang lain merupakan keterampilan sosial yang mendukung keberhasilan dalam pergaulan dengan orang lain. Tanpa memiliki keterampilan seseorang akan mengalami kesulitan dalam pergaulan sosial.  Sesungguhnya karena tidak dimilikinya keterampilan-keterampilan semacam inilah yang  menyebabkan seseroang seringkali dianggap angkuh, mengganggu atau tidak berperasaan.

Dengan memahami komponen-komponen emosional tersebut diatas, diharapkan para remaja dapat menyalurkan emosinya secara proporsional dan efektif. Dengan demikian energi yang dimiliki akan tersalurkan secara baik sehingga mengurangi hal-hal negatif yang dapat merugikan masa depan remaja dan bangsa ini. Semoga. ;)


Posted at 09:45 pm by Gredinov
Tulis comment disini  

 
Wednesday, January 18, 2006
Cintailah Cinta

Adalah sesuatu yang menyakitkan ketika kita mencintai seseorang, namun ia tak pernah membalasnya, tetapi yang lebih menyakitkan adalah ketika kita mencintai seseorang sedangkan kita tidak pernah dapat menemukan keberanian untuk mengungkapkan perasaan kita padanya.

Sebuah hal yang menyedihkan dalam hidup ketika kita bertemu dengan seseorang, yang sangat berarti bagi kita, hanya untuk mengetahui pada akhirnya seseorang tersebut tidak ditakdirkan untuk bersama kita, sehingga kita harus dengan berat hati membiarkannya pergi dan berlalu.

Teman terbaik adalah teman dimana ketika kita duduk bersama disebuah ayunan, tanpa ada ucapan sekatapun, dan ketika harus berpisah dengannnya, terasa seolah hal tersebut merupakan percakapan paling menyenangkan yang pernah dilakukan bersama.

Adalah benar bahwa kita takkan pernah tahu apa yang telah kita dapatkan hingga kita kehilangannya. Tetapi adalah benar juga, ketika kita tidak tahu apa yang telah hilang hingga hal tersebut menghampiri kita.

Impikan saja apa yang ingin kita impikan, pergi saja kemanapun kita ingin pergi, jadilah sebagai sosok yang kita inginkan, karena kita hanya memiliki satu buah kehidupan dan satu buah kesempatan untuk dapat melakukan semua hal yang kita inginkan.

Letakkan diri kita sebagai layaknya orang lain, jika kita merasa hal yang kita lakukan akan menyakiti diri kita, hal tersebut mungkin akan menyakiti yang lain pula.

Kata-kata yang terucap tanpa perhitungan mungkin akan menyulut perselisihan, perkataan yang kejam dapat menghancur-kan kehidupan, sebuah kata yang tak tepat mungkin juga mampu menambah beban batin seseorang, dan... sebuah kata yang penuh cinta kasih mungkin dapat menyembuhkan dan memberikan berkah.
Orang yang paling bahagia adalah orang yang tidak merasa selalu membutuhkan semua hal terbaik, mereka hanya berfikir bagaimana menciptakan semua hal menjadi terbaik bagi mereka, yang berlalu dalam hidupnya.

Cinta dimulai dengan sebuah senyum dan berakhir dengan air mata. Ketika kita dilahirkan, kita adalah orang yang menangis, sementara orang-orang disekeliling kita tersenyum bahagia.Ketika kita menanggalkan hidup, maka kita adalah pihak yang tersenyum begitu bahagia... sementara orang disekeliling kita menangis.

 

 


Posted at 10:17 am by Gredinov
Comment (1)  

Untukmu
untukmu
kupadamkan api asmara dalam bara mentari
untukmu
kusandarkan hati pada pucuk indah pelangi
untukmu
kuhempaskan asa dilautan luas tak bertepi
dan,
kusebut slalu namamu dihati
hingga nadiku terhenti

Posted at 06:08 am by Gredinov
Tulis comment disini  

Next Page